Rabu, 11 Juli 2012

Menanti Takdir


“Siapa namanya?”
“Rian, Fa.”
“Jadi, lo suka sama dia?” tanya Ifa pada Disa, setelah Disa bercerita tentang orang yang akhir-akhir ini menguasai pikirannya.
“Iya, kali.” Jawab Disa yang masih saja senyum-senyum tak jelas.
            “Kali? Lo serius apa nggak?”
            “Iya serius. Gue ga tau. Apa cuma sekedar suka atau udah bermetafosis jadi rasa sayang. Soalnya gue baru pertama kali gini naksir sama junior yang bedanya 1 tingkatan ama gue.”
            “Sejak kapan kenal ama dia?”
            “Februari.” Disa menjawab dengan nada datar. Wajahnya pun berganti ekspresi. Kini mendadak sendu.
            “Kenapa, Dis?”
            “Gue kan udah mau masuk SMA. Sedangkan dia, baru aja mau naik kelas 3 SMP. Jauh banget ya gak sih?”
            Perkenalan itu dimulai pada awal Februari. Saat itu Rian dan Disa berlari di tengah lapangan, dan karena tak saling sadar, mereka pun bertabrakan, badan mereka berbenturan cukup keras. Buktinya,  Disa merasa sakit. Namun tidak dengan Rian. Mungkin, karena dia laki-laki. Fisik laki-laki biasanya lebih kuat daripada perempuan. Lalu, Rian pun mengantarkan Disa ke ruang UKS.
            “Makasih ya, Dek.” Ucap Disa ketika itu.
            “Saya Rian, Kak.”
“Saya Disa. Yaudah, makasih ya udah nganterin sampe ke UKS.” Rian dan Disa pun berjabat tangan saling berkenalan. Lalu, Disa pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur UKS.
Lebih kurang satu jam tertidur, Disa pun terjaga karena mendengar suara-suara murid yang gaduh. Ternyata, sudah jam pulang. Lalu iya pun memasang sepatunya dan keluar dari ruang UKS. Ketika Disa membuka pintu, ada Rian yang juga ingin membuka pintu dari luar. Mereka pun kaget bersamaan.
“Kamu bikin kaget saya aja deh.” Kata Disa memecahkan suasana kikuk di antara mereka berdua.
“Maaf Kak. Saya pikir tadi kakak belum bangun. Makanya pengen saya bangunin. Udah bangun ya kak?”
“Menurut kamu, sekarang saya lagi tidur atau udah bangun?” Tanya Disa jutek.
“Kurang tau juga kak. Kira-kira sekarang kakak lagi tidur atau udah bangun?” Rian mengulang pertanyaan Disa dengan santai. Membuat Disa terpancing dan jengkel.
“Itu kan pertanyaan saya tadi?! Kok malah nanya balik ke saya?!! Jadi, yang nanya itu sebenernya saya atau kamu?!”
“Hahahaha. Yaudah, saya pulang duluan ya kak! Assalamualaikum!”
“Awas ya kamu besok, Dek!”
Semenjak hari itu, Disa dan Rian pun dekat. Yang awalnya tak saling mengenal, kini, setiap kali bertemu selalu saja berkelahi.  Yang awalnya wajah Rian tak pernah terlihat oleh mata Disa, kini dimana-mana Disa seolah selalu melihat Rian. Mungkin, otak, hati, dan mata Disa berkonspirasi untuk bekerjasama menyelidik ke segala arah menemukan keberadaan sosok Rian.
Beberapa hari yang lalu, Rian bercerita pada Disa tentang perempuan yang kini disukainya. Disa dimintai nasehat bagaimana Rian harus bertindak. Ketika ditanya siapa perempuan tersebut, Rian keberatan untuk menyebutkan namanya. Saat itu, ntah mengapa Disa merasa tertampar. Dia sadar, tidak ada cemburu, jika tidak ada rasa ketertarikan. Disa pun menarik kesimpulan bahwa Ia mulai menyukai dan mungkin, menyayangi, Rian.
“Gini ya Dis, kalo kata gue… Kalo sekedar suka sih itu biasa. Remaja mah wajar punya rasa ketertarikan sama lawan jenis, yang ga wajar itu kalo sesama jenis. Tapi, yang luar biasa itu kalo udah sayang sama orang, Dis. Gue pikir, rasa suka lo sekarang sedikit demi sedikit udah berubah jadi rasa sayang. Buktinya, lo kenapa sedih banget waktu mau pisah sekolah dari Rian? Dan, kenapa lo ampe sebegitu niatnya bikinin Rian film yang isinya slide show foto-foto lo bedua ama dia?” Kata Ifa mencoba memberikan pandangan.
“Yap. Lo bener, Fa. Tapi jarak umurnya itu loh, Fa?” jawab Disa yang tampaknya menyesalkan perbedaan umur antara dia dan Rian.
“Emangnya ada peraturan khusus yang bilang kalo orang yang punya perbedaan umur itu ga boleh bersatu? Peraturan dari mana? Kok gue ga pernah denger sih? Yang tua belum tentu dewasa, dan yang dewasa juga belum tentu tua, Dis.”
Disa pun terdiam setelah mendengar kata-kata yang dilontarkan Ifa.
***
Hari ini adalah jadwal kelas Disa mengembalikan buku pinjaman ke perpustakaan. Setelah selesai dengan urusan perpustakaan, Disa pergi makan di salah satu kantin sekolah yang sebentar lagi akan ditinggalkannya. Setelah lebih kurang 3 tahun, menimba ilmu di sekolah tersebut, Disa mendapatkan banyak hal: pelajaran, pengalaman, persahabatan, dan lainnya. SMP adalah masa transisi pertama, dari masa anak-anak menuju ke remaja. SMP adalah masa-masa dimana kita mulai mengenal tantangan dan masalah yang memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dari sebelumnya.
“Kak!” panggil seseorang setelah Disa selesai makan di kantin dan berniat ingin menuju gerbang sekolah untuk pulang. Disa pun menoleh dan ternyata…
“Rian?” guman Disa.
Rian pun berlari menuju Disa. Semakin dekat dan semakin dekat. Perasaan Disa mendadak campur aduk. Orang yang menjadi alasan Disa berat meninggalkan sekolah ini, kini berlari ke arahnya.
“Kak, ada yang mau saya bilang.” Kata Rian dengan dengusan nafas yang masih terdengar sehabis berlari.
“Apa?”
“Tapi, jangan marah ya?”
“Emangnya ada apa?’
“Kak, sebenarnya… orang yang selama ini aku suka itu… kakak.”
Disa tersentak. Kalimat yang sudah tidak asing di mimpi dan khayalannya tersebut kini benar-benar diucapkan di dunia nyata. Rasanya, darah Disa mengalir dengan cepat. Jantungnya pun berdetak lebih kecang dari sebelumnya. Dan kini Disa semakin gugup dan badannya mendingin.
“Saya minta maaf karena baru bilang sekarang, Kak.”
 “Terus?” tanya Disa dengan gaya yang mungkin terdengar judes padahal Ia kebingungan harus berkata apa.
“Saya pengen kita tetap adek-kakak-an.”
“Rian…”
Suasana yang tidak bisa terjelaskan dengan kata-kata tersebut terpecahkan karena handphone Disa yang berbunyi. Ternyata sms dari mamanya yang sudah menunggu di depan gerbang.
“Kenapa kak?”
“Saya udah dijemput. Ngomong-ngomong, kamu serius kan dengan apa yang kamu bilang tadi?”
“Iya kak.”
“Jadi, saya harus ngapain?”
“Menurut kakak?”
“Apa saya harus nunggu kamu?”
Percakapan itu terhentikan. Rian tak memberikan jawaban sebagai lanjutan percakapan.
“Ya janganlah kak. Kakak jangan nunggu saya.” Jawab Rian membuat Disa bingung.
“Jadi?”
“Kak, kakak suka gak sama saya?”
            Kini, Disa yang tak mampu memberikan jawaban secara cepat. Percakapan kembali terhenti sejenak. Suasana kembali hening.
            “Iya. Mungkin, saya duluan yang suka sama kamu. Saya pikir, orang yang selama ini kamu suka itu… bukan saya. Eh, kamu belum jawab pertanyaan saya yang sebelumnya loh.”
            “Oke… Kak, percaya gak sama pepatah yang bilang, kalo jodoh pasti bakalan ketemu lagi?”
            “Percaya sih… Eh apa banget baru juga mau naik kelas 3 smp udah ngomong jodoh-jodohan. Haha. Tapi, ngomong-ngomong, kenapa kamu baru bilang sekarang?”
“Karena kakak udah mau SMA, saya bingung kenapa tiba-tiba saya jadi gelisah.”
Kehadiran dan keberadaan seseorang memang lebih berarti saat dia mulai menjauh atau pergi.”
 “Iya kak, itu yang sekarang lagi saya rasain. Kak, kalau saya udah jadi cowok yang mandiri dan dewasa, saya nyari kakak ya? Kakak gak perlu nunggu, karena saya yang bakalan nyari kakak.”
            Handphone Disa kembali berdering, kini Mama Disa menelfon langsung. Mungkin karena Disa terlalu lama menuju ke depan gerbang.
            “Rian, makasih banyak buat semuanya. Makasih karena kamu yang lebih kurang 6 bulan ini yang paling sering bikin saya senyum dan ketawa. Makasih untuk pengakuan kamu hari ini. Saya ngehargain itu semua. Sekali lagi, makasih udah hadir di hidup saya.”
            “Sama-sama. Kak, yang penting, hari ini kita udah sama-sama saling ngaku. Apa yang bakalan terjadi besok, kita cuma musti nunggu.”
Disa mengangguk pertanda setuju dengan pernyataan Rian.
***
            “Dis, lo gak takut bakalan diPHPin Rian?” Tanya Ifa, sahabat yang paling setia mendengarkan cerita-cerita Disa.
            “Hah? Ya enggalah. Hahaha.”
            “Maksud lo?”
“Gue suka sama dia kan wajar. Gue kan anak muda juga kali, haha. Gue ama dia pun udah ngaku kalo kita bedua saling suka. Tapi, kita bedua milih buat ga pacaran, karena… ya emang timing-nya aja yang belum pas. Untuk apa ngejalanin hubungan kalo rasanya, tingkat kedewasaan berpikir antara cowok sama ceweknya masih jauh banget? Yang ada mah, sia-sia doang. Sekarang… ya… gue ngikutin arus aja deh. Kalo ternyata dia lupa ama janjinya dan jadian dengan orang lain dalam waktu dekat ini, yasudah… Gue sih ga ngelarang, itu kan hak dia. Tapi ya… gue bakalan galau dan cemburu juga sih, dikit tapinya. Hahaha.”
            “Yakin lo, cuma dikit? Hahaha.”
            “Yaaa mungkin gue nangis 3 minggu dulu, teruss yaudah.” Jawab Disa.
            “Yaudah gimana?” Ifa masih kepo.
            “Gue masih nunggu waktu, apa gue suatu saat bakalan bisa sama dia atau gak. Let it flow ajalah. Toh, jalan dan takdir Tuhan selalu yang terbaik kan?”
            “Aaaaaaaa, salut gue sama lo Dis! Bijak banget sih!” Ifa pun memeluk sahabatnya tersebut.

Kamar Disa, 8 Juli 2012.

Kadang, aku berfikir, mengapa di saat-saat akhir ini kita baru saling mengenal?
Dan mengapa di saat-saat akhir ini pula kau baru mengakui perasaanmu?
Tapi, yasudahlah. Aku tidak terlalu ingin mempermasalahkan hal tersebut.
Aku menunggumu menjadi sosok manusia yang lebih utuh. Manusia yang lebih komunikatif dan dewasa.
 Selama masa penantian itu, aku tak tau apakah akan ada yang mengisi kekosongan hatiku atau tidak.
Kalau pun ada, aku TETAP menunggu waktu ‘tuk memberikan jawaban tentang takdir apa yang akan kita terima. Apakah kita akan bisa bersama atau tidak.
Tapi, jika memang sudah menjadi bagian dari kehendak-Nya kita bersatu, kita pasti kan bertemu lagi... pasti...
Selamat malam, kamu yang kini sedang aku rindu.

Tertanda,
Aldisa Javier.


NB:
Nama Aldisa Javier terinspirasi dari temen SMP gue, Sesilia Javiera Aldisa.

Rabu, 13 Juni 2012

Papa


---One missed call from ‘Papa’---
Kenapa Pa?
Sms itu pun terkirim.
Jam berapa perlunya CD, Dik?
Rasanya sudah lama beliau tidak memanggilku dengan sebutan Dik atau Adik.
09.45. Sama kotak pensil juga ya Paaa.
Papa pun membalas smsku dengan datar.
Ya.
Tak lama, handphoneku pun berbunyi pertanda sms masuk. Ternyata dari Papa.
Ambil didepan sekolah, now (24 Januari 2012, 09.28 WIB)


---------------------------------------------------------------
Ketika itu, aku masih berada di tempat aku menimba ilmu, sekolah
Ada hal ganjil memang, pada awalnya, tapi, terabaikan olehku
Ia masih sempat mengantarku ke sekolah pada pagi hari
Lalu, pulang ke rumah dan kembali mengambilkan barangku yang tertinggal di rumah
Ketika Ia sampai di gerbang sekolah, Ia langsung mengabariku melalui pesan singkat
Lalu aku berlari menuju gerbang sekolah
Ada perasaan tidak enak, ketika aku merasa, aku selalu merepotkannya
Tapi, bagaimana lagi?
Tanpa yang dibawakannya tersebut, aku tidak bisa mengikuti ulangan praktek dengan baik
Aku masih sempat menyalam tangannya pukul 09.45, pagi hari itu
Tak lupa, kuucapkan terimakasih padanya karena dia sangat membantuku
Ku lihat samar-samar, wajahnya pucat, tertutup oleh kaca helm warna hitam
Ku rasakan tangannya dingin, beda dari hari-hari biasanya
Namun, tak pernah terbayangkan olehku, kalau itu adalah percakapan sadar terakhirku dengannya
Itu menjadi hari yang suram, saat ku tau, itu adalah hari terakhir aku melihat dia mengendarai motor
Motor itu warnanya putih, sama seperti warna pakaian terakhirnya
Itu adalah hari terakhir dia mengantarku ke sekolah
Hari terakhir dia menggerakkan tangannya agar aku bisa menyalaminya
Tenggorokkanku pun mulai sakit menahan tangis ketika aku menulis ini
Masih ku ingat baru shubuh tadi, dia membuka pintu kamarku dan berkata, “Nak, bangunlah.”
Aku pun mematuhi perintahnya tersebut
Tapi, ketika aku katakan “Pa, bangun!” padanya sekarang, dia hanya diam
Diam, dan terus diam. Membujur kaku, tak ada suara. Matanya tertutup. Aku tak tau di sedang bermimpi apa atau sedang menuju kemana
Aku marah! Aku marah karena dia tidak adil! Curang! Tadi pagi aku mematuhi perintahnya, namun ketika aku meminta hal yang sama, Ia tak bisa memenuhi permintaanku tersebut
Aku sempat pingsan ketika mendengar kabar seorang laki-laki hebat andalanku tersebut terbujur kaku di rumah sakit
Koma, iya, beliau koma. Koma yang menciptakan tanda tanya di benak kami semua, “Akankah beliau bangun? Dan kembali menjadi pahlawan bagi kami semua?”
Rasanya baru kemarin beliau mengantarkanku pergi ke tempat les
Rasanya baru kemarin beliau memarahiku, karena kamarku berantakan, karena aku meletakkan gelas di sembarang tempat sesudah minum, karena aku lupa untuk menunaikan ibadah kepada Allah, karena aku malas untuk bangun pagi, dan masih banyak lagi
Rasanya baru kemarin, dia mengajakku ke sebuah rumah makan untuk makan siang, dan memperbolehkanku memesan makanan dan minuman yang ku suka
Tenggorokkanku kembali sakit. Seperti ada yang tertahan di sana. Air mata menitik perlambangan kondisi hati
Dari koma menjadi titik
Jatah beliau berada di Bumi ternyata sudah habis. Malaikat sudah mengajak rohnya untuk dibawa ke dunia yang lain. Dunia yang tak bisa ku sentuh. Yang tak bisa membuat ku terhubung, walau menggunakan tekhnologi secanggih apa pun
Papa, 25 Januari 2012, pukul 21:07, Ia pergi, dan tidak bisa berjanji untuk kembali lagi. Ia pergi untuk selamanya
21:07, sama seperti tanggal dan bulan kelahirannya, 21 Juli 1958
Jika di hari kelahirannya Ia menangis, di hari… ah, aku tidak cukup kuat untuk menyebut kata… kematian, namun yang jelas, di hari Ia pergi untuk selamanya, Ia tersenyum manis, membuat kami tenang dan yakin dia sudah tenang di Surga


Okay… Ini bukan lawakan. Tapi, inilah yang terjadi di hidup gue. Sebuah pengalaman yang benar-benar mengubah  hidup gue. Yatim, istilah yang gak gue sangka bakalan jadi sebutan untuk orang seperti gue.

Laki-laki hebat yang sangat berpengaruh dalam hidup gue pergi untuk selamanya. Orang baik memang selalu dipanggil duluan, begitu kata orang-orang. Tapi Papa Refrizon Yunus, memang orang baik. Beliau yang paling mendominasi mengajarkan anak-anaknya shalat, mengaji, ilmu agama, menutup aurat, memakai jilbab, dan lainnya.

Ga cuma itu, dia banyak mengajarkan hal lain ke gue. Bagaimana caranya bersikap yang baik, menjadi seseorang yang mampu berpikiran cerdas dan kritis, dan menjadi pemimpin yang disukai oleh semua orang.

Pa, walaupun Papa belum ngeliat adek jadi seseorang yang selama ini adek cita-citakan, tapi, semoga, suatu saat nanti, Papa bisa senyum karena udah ngeliat adek jadi orang sukses. Pa, tanpa didikan dan sistem tata nilai yang udah Papa dan Mama terapkan, kami semua ga akan sesukses seperti saat ini. Pa, titip pesan untuk Allah, bilangin sediain tempat untuk kita semua di surga nanti ya?

Sabtu, 04 Februari 2012

Aku Mempertahankanmu Karena Aku Menyayangimu


Aku Mempertahankanmu Karena Aku Menyayangimu


Kenapa hubungan ini ingin aku pertahankan? Jawabannya adalah karena aku mencintaimu. Sebuah penjelasan yang gamblang bukan?

----------------------------------------------------------

Kita tak bisa seperti ini terus kalau ingin tahan lama. Menurutku, kita jangan berkomunikasi dulu sampai situasinya mendingan. Kumpulkan saja rindunya dulu, nanti, jika sudah sangat rindu, baru kita akan berkomunikasi lagi. Tapi, dengan syarat, kita tetap konsisten untuk saling menjaga hati dan setia. Intinya, kita harus berusaha membuat hubungan kita terkesan tak menjenuhkan jika ingin langgeng.

Delivered. Pesan itu pun terkirim setelah aku berpikir keras bagaimana caranya mempertahankan hubunganku dengannya. Setelah situasi rasanya kondusif, lalu pesan baru pun ku kirim lagi.

Aku ingin bertemu dengamu.

Beberapa saat kemudian, dia pun membalas pesanku.

Kebetulan sekali. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Segera bersiap-siap, aku akan menjemputmu.

Sejam kemudian, aku melihat dari jendela kamarku mobilnya yang telah terparkir di depan gerbang rumahku.
"Silahkan masuk." Dia membukakan pintu mobilnya dan memperlakukanku bak putri raja, setelah aku keluar dari rumah tuk menemuinya.
"Berapa kali kamu lakukan hal konyol seperti ini? Aku bosan. Sudah ku bilang, aku bukan putri raja."
"Kamu memang bukan putri raja, tapi, kamu pantas diperlakukan bak putri raja."
"Gombal. Kamu selalu mengatakan hal yang sama." Dia langsung berjalan berbalik arah untuk masuk ke mobil. Aku yang tadi merengut untuk menyembunyikan responku yang sebenarnya, lalu tertawa kecil melihat caranya memperlakukanku.

Dia mengajakku ke restoran tepi pantai. Semelir angin di tepi pantai tersebut memberikan kesejukan dan kedamaian bagiku. Benar-benar seperti terapi. Angin yang menghembusku bak memberikan kekuatan untuk menjelaskan apa yang ku rasakan pada orang yang kini duduk di depanku. Ah, dia begitu necis dan tampan malam ini. Kemeja putih, serta jeans hitam yang dikenakannya, begitu membuat dirinya semakin terlihat mempesona.
"Untuk apa sih kita menjalani semua ini?" Pertanyaan itu pun muncul dari bibir yang tak ku poles dengan apa-apa malam ini, dan terkesan sinis rasanya.
"Aku tidak tau." Dia menjawab singkat dan polos.
"Suatu hubungan itu memang tak selalu indah. Ada saat-saat sulitnya dan ada juga saat-saat kita saling mengecewakan satu sama lain secara sadar atau pun tak sadar. Kan kamu sendiri yang mengatakan seperti itu."
"Iya, aku tau itu. Lalu, kita harus bagaimana?" Tanyanya tiba-tiba langsung memasang wajah memelas.
"Jangan seperti itu. Aku lebih menyukai jika kamu bersikap dewasa dan bijaksana."
"Maafkan aku. Baiklah. Lanjutkan bicaramu."
"Nah, sekarang kembali lagi ke kita. Apakah kita mau menikmati masa-masa indahnya saja atau mau menjalani bersama masa-masa sulitnya?" Lanjutku.
"Bukankah kita telah berkomitmen untuk menjalani semuanya bersama-sama? Jika aku hanya memilih masa-masa indahnya, berarti aku telah melanggar komitmen kita. Untuk apa kita menjalani ini semua jika hanya untuk kesenangan emosional sesaat?" Aku mengangguk. Aku senang ketika dia bersikap dewasa dan bijaksana seperti itu. Karena dengan begitulah, aku merasa dia mengajariku akan banyak hal. Aku juga merasa dia menjaga dan melindungiku.
"Tujuanku yang paling utama dalam menjalani hubungan ini adalah untuk saling belajar, bertukar pikiran, dan lain-lain. Biar kita bisa mendapatkan pelajaran yang membuat kita semakin dewasa. Aku yakin, di setiap masa-masa sulit pasti tersembunyi masa-masa indah yang akan kita dapatkan sebagai hadiahnya."
Aku pun menghela nafas karena dia kembali bergeming, tak bersuara, dan tak memberikan respon apa pun.
"Aku merasa kepercayaan dirimu mulai hilang. Dan kamu menjadi tak percaya lagi padaku."
"Bukankah itu kenyataannya? Aku tak lebih baik dari orang yang kamu kagumi itu." Katanya merendahkan diri.
"Aku hanya mengaguminya. Aku tidak menyayanginya layaknya aku menyayangimu." Jelasku.
"Tetap saja, aku tidak lebih baik dari yang kamu kagumi itu." Ia tetap menyanggah pendapatku. Aku menghela nafas. Berhenti sejenak tuk menyusun kalimat yang pas untuk menjelaskan padanya.
"Begini, sebelumnya, aku secara tidak langsung pernah menolakmu karena aku tak ingin kehilangan kamu sebagai salah satu sahabatku kan? Karena waktu itu, aku merasa, care dan simpatiknya aku ke kamu, hanya sebatas antara sahabat ke sahabat saja." Aku mencoba mem-flashback cerita masa lalu antara aku dan dia. "Tapi, mengapa sebelum tanggal 'spesial kita itu' aku suka pusing memikirkan perasaanku padamu? Aku pun sadar, ternyata aku menyayangimu, bukan sebagai 'sahabat' tapi sebagai 'orang yang lebih dari sahabat'."
"Terimakasih. Ku pikir, waktu itu cintaku akan selamanya bertepuk sebelah tangan."
"Perhatian dan ketulusanmu ada di saat aku membutuhkan itu semua." Jawabku ingin menggambarkan isi hatiku yang sebenarnya.
Dia. Dia yang kini paling sering menguasai pikiranku itu banyak mengajarkanku hal-hal sederhana yang sebenarnya luar biasa. Aku belajar dari dia bahwa cinta yang sebenarnya itu tak pernah memaksa untuk dapat saling memiliki sepenuhnya, tapi, jika dia memaksa, bisa dipastikan itu bukan seutuhnya cinta, melainkan sudah tercampur dengan yang namanya nafsu dan emosi.
"Aku hanya ingin kamu bahagia. Terkesan bualan memang. Tapi, itulah yang ada di hatiku." Ucapnya.
"Di mataku, kamu adalah laki-laki yang unik dengan segala kelebihanmu. Jadi, kamu jangan pernah merasa kamu itu tak lebih baik dari you-know-who-lah-yaa."
Dia hanya tersenyum kosong. Aku menarik lalu menggenggam tangannya. "Apa kamu belum percaya denganku?" Tanyaku sambil menatapnya lekat-lekat.
"Aku percaya padamu." Jawabnya membuatku jadi belum percaya dengan apa yang diucapkannya tersebut.
"Di satu sisi, mungkin mereka lebih baik dari kamu, tapi, di sisi lain, kamu lebih baik dari mereka. Dan se-perfect apa pun mereka dari luar, itu semua tak akan berlaku di mataku, jika hatiku  hanya padamu."
"Maaf, jika aku tak mempercayaimu. Terimakasih telah membangkitkan kepercayaan diriku lagi. Kamu begitu pintar memotivasiku. Aku begitu bahagia memilikimu." Pujinya sambil menggenggam tanganku yang satunya. Kini, kedua tanganku dikuasai dan digenggam dengan erat olehnya.
"Kamu tau? Adalah suatu kebahagiaan yang luar biasa bagiku jika kamu berubah lebih baik, dan selalu lebih baik lagi. Dan kamu harus memanfaatkan keadaan seperti gini, dimana ini bisa kamu jadikan sebagai motivasi terbesar dalam hidupmu. Tapi, di balik semua itu, jangan membuatku sebagai patokan motivasi terbesarmu, namun, tanamkan dalam otakmu, bahwa kamu selalu ingin menjadi lebih baik adalah usaha untuk persiapanmu dalam menghadapi masa depan."
"Apa kelak kamu tertarik ingin menjadi motivator yang serius di bidangnya seperti Mario Teguh?"
"Aku sedang tidak membahas masalah cita-cita." Aku menjawab pertanyaannya dengan
ketus.
"Kamu lucu kalau sedang gusar seperti itu." Rayunya mesra.
"Jadi, apa kamu ingin aku terus gusar karenamu?"
"Mungkin. Hahahaha." Jawabnya santai. Aku melihat dia tertawa. Aku... Melihat dia tertawa! Mengapa aku ingin menangis kali ini? Mengapa aku merasakan haru yang luar biasa saat aku melihat dia tertawa karenaku? Tuhan, dia tampak lebih tampan saat dia tertawa lepas seperti itu. Mungkin ini berlebihan, tapi... ntahlah. Ada kebahagiaan yang beda saat aku dapat melihatnya tertawa karenaku.
"Kamu benar-benar membuatku gusar sekarang." Ucapku berbohong.
"Baiklah, baiklah. Haha. Maafkan aku. Sungguh, kamu itu terlihat lucu ketika marah. Tapi, kamu terlihat lebih lucu dan cantik ketika kamu tersenyum dan tertawa, sayang."
"Baiklah, malam ini aku akan merelakan kupingku mendengarkan gombalan darimu. Silahkan. Lanjutkan, pertunjukan gombalmu."
"Sayang..." Dia menghentikan tawanya dan memanggilku dengan mesra. Semelir angin di tepi pantai ini masih saja berlomba-lomba meniup rambutku. Terasa sejuk, tapi, tangan seseorang yang kini menggenggam tanganku ini membuatnya hangat. Romantis.
"Aku setuju jika kita menghadapi masa-masa sulit dalam hubungan kita itu secara bersama-sama, dan menjadikannya sebagai alat pendewasaan diri untuk kita. Aku akan mencoba untuk menjaga perasaanmu sebisa yang ku bisa. Dan aku tak kan lagi membatasi ruang lingkup pergaulanmu. Karena aku percaya hatimu hanya untukku." Lanjutnya.
"Oke. Satu hal yang perlu kamu tau, walaupun sebenarnya kamu sudah mengetahuinya."
Aku pun melanjutkan kembali perkataanku setelah dia tersenyum manis melihatku. "Kita telah masuk pada masa dimana banyak konflik yang akan menguji kita. Jangan dihindari, karena setiap hubungan pasti akan ada masa-masa sulitnya. Tapi, kita harus pintar untuk memanfaatkan keadaan. Di sinilah kita belajar salah satu dari sekian banyak realita kehidupan. Semakin panjang waktu kita untuk menghadapi ini semua, pasti akan semakin banyak pelajaran yang kita dapatkan untuk mengerti tentang kehidupan di dunia ini."
"Sudah ku bilang, kamu itu cocok menjadi seorang motivator! Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke sebuah lingkungan yang terdapat orang-orang yang membutuhkan seorang motivator hebat sepertimu. Kapan kamu bisa? Aku akan mengantarmu."
"Jangan melarikan pembicaraan." Balasku kembali ketus.
"Jangan seperti itu. Aku tidak melarikan pembicaraan. Untuk apa aku melarikan pembicaraan? Lebih baik aku melarikanmu, hahaha." Lagi, dia tertawa lepas, dan itu karenaku. Aku suka. Aku tak ingin menghentikan dia tertawa. Aku ingin dia melepas beban-beban yang Ia pikul selama ini. Aku kan bahagia, bila dia bahagia.
"Mengapa kamu hanya diam?" Tanyanya setelah mungkin heran karena aku hanya mengunci mulut padahal diam-diam tersenyum dalam hati.
"Tidak apa-apa. Ya sudahlah. Aku lapar setelah banyak berbicara. Aku ingin memesan makanan lagi."
"Sayang...." Dia memanggilku lagi dengan lembut ketika aku kembali melihat daftar menu yang disediakan oleh restoran ini.
"Aku menyayangimu." Ucapnya lalu mengecup keningku dengan mesra. Dia mengecup keningku di antara angin-angin yang terus berhembus menebarkan kesejukan. Lembut. Romantis. Aku menyayanginya, lebih dari yang dia tau. Aku tersenyum. Betapa bahagianya aku memiliki dia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang tak semua orang memilikinya. Tapi, sebenarnya, masih ada yang ku simpan dalam hati ini. Aku tak tau apakah dia tau atau tidak, tapi, lebih baik, aku diam saja menyimpannya. Aku tak ingin merusak makan malam kami hari ini.



Aku mempertahankanmu karena yang ku lihat kamu sebenarnya masih menyayangiku juga. Tapi, andai kamu tau. Betapa takutnya aku, kalau pada kenyataannya kamu lebih bahagia jika tidak terperangkap bersamaku di sini; menjalani hubungan apa adanya dan biarkan waktu menjawab takdir apa yang akan kita terima kelaknya.


Pekanbaru, Februari 2012
Michiko J Frizdew.

Jumat, 06 Januari 2012

Keputusan Terbaik

"Gue pengen kita balikan." Ucap Radit sambil menarik tangan Gita ketika gadis itu hendak pergi dari pertemuan yang ternyata dirancang Radit untuk mengajaknya mengulang sesuatu yang dulu sempat diakhiri tersebut.
"Apa? Lo bilang apa?" Tanya gadis itu sambil menoleh padanya.
"Apa gue salah? Gue pengen kita kayak dulu lagi."
Gita terdiam. Ia menatap mata laki-laki itu lekat-lekat; mencari kebenaran yang tersimpan dalam hati laki-laki itu. Semakin dalam, semakin dalam, dan semakin dalam. Gita menghela nafas panjang.
"Gue ga tau harus jawab apa." Gita menunduk. Radit pun melepas genggaman tangannya.
Baru sebulan yang lalu Gita dan Radit setuju akan kepututsan untuk mengakhiri segalanya, tapi, sekarang, Radit sudah meminta tuk mengulang semuanya dari nol.
"Gue masih sayang sama elo. Tiap hari gue kangen sama lo. Yaa obat kangen itu ga ada yang lain, selain elo." jelas Radit.
"Aku mohon, Git.... Aku ternyata ga bisa lepas dari kamu. Setiap kali aku coba buat move on, aku ga bisa. Berhenti sayang sama kamu itu sakit rasanya." Radit menjadi terdengar lebih lembut karena berbicara menggunakan Aku-Kamu.
"Lo pikir gue enggak? Lo pikir gue dengan segampang itu ngelupain kenangan kita yang udah pacaran sejak setahun yang lalu itu?" Nada Gita meninggi. Ia pun melanjutkan bicaranya lagi. "Lo mau gue sebutin apa? Gue inget! Banyak yang gue inget, Dit! Kenangan pas lo nembak gue, pas kita masih canggung awal-awal jadian, pas elo ngantar-jemput gue sekolah..."
"Gue ngantar-jemput lo karena kita satu sekolahan dan arah pulang kita pun sama. Jadi, gue pikir, itu biasa." Potong Radit.
"Sesuatu biasa yang terjadi berulang-ulang itulah yang ngebuat gue ga bisa dengan mudah ngelupain kenangan itu!" Gita tampak semakin berapi-api.
"Gue juga inget pas elo ngajarin gue sama pelajaran yang ngga gue ngerti. Pas elo gendong gue waktu kaki gue sakit karena jatuh. Waktu kita ke mall bareng, ke pustaka bareng, kejar-kejaran di taman kota, car free day-an bareng, ngerayain anniv. Ah, banyak deh pokoknya! Ga bisa disebutin satu-satu! Jadi, jangan pikir gue bisa ngelupain semua itu. Gue masih belum bisa move on, apalagi berhenti sayang sama lo. Belum, Dit. Sakit hatinya gue, mungkin lebih daripada elo." Gita menepuk-nepuk dadanya.
"Belum? Jadi, apa kamu bakalan ngelupain semuanya, Git?" Tanya Radit.
"Gue ngga tau!!!" Jawab Gita. Energinya tampak habis karena digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang tertahankan di hatinya.
"Kamu sayang kan sama aku?" Tanya Radit.
"Apa gue harus selalu ngejelasin itu, Dit? Lo tau sendiri kan jawabannya apa?"
Radit langsung mendekap Gita.
"Aku bener-bener ngga mau kamu tersakiti. Aku mau kamu bahagia. Kalo perpisahan itu cuma nyakitin kamu, aku ga bakal ngelepasin kamu lagi, Git. Aku janji, aku bakalan usaha buat lebih baik demi kamu. Aku mau kita pertahanin hubungan kita Git." Suara-suara pengharapan itu terdengar oleh Gita dari mulut laki-laki yang kini mendekapnya begitu erat.
"Apa yang lo ucapin itu tulus dari hati lo atau cuma buat ngemenangin hati gue lagi, Dit?" Gita keluar dari pelukan Radit yang begitu erat.
"Maksud kamu apa?" Radit malah bertanya heran.
"Kok lo malah bingung gitu? Kalo lo emang tulus, pasti lo bakalan refleks buat bilang kalo ucapan lo itu tulus! Bukan pake mikir dulu!" Sergah Gita dengan mata yang sudah tampak mulai ingin mengeluarkan 'hujan'nya.
"Gue tanya sama lo Git. Apa lo pikir ucapan gue tadi ga tulus?"
"Gue..."
"Git, sesuatu yang dari hati cuma bisa dirasakan oleh hati!" Radit langsung menginterupsi Gita tanpa izin.
"Oh, jadi gitu? Gimana kalo yang gue rasain sekarang adalah ucapan lo tadi cuma untuk ngemenangin hati gue?"
"Hati-hati Git! Bersikaplah objektif dan rasional! Kamu jangan mudah tersugesti seperti itu! Percaya kata hati kamu aja."
"Gue udah capek. Kondisi gue sekarang ga memungkinkan untuk berpikir keras. Lo ga lihat ini apa hah?" Gita menunjuk air matanya yang sudah menetes dari tadi.
"Gue sekarang cuma mau pake ini." Gita menunjuk-nunjuk letak hatinya.
Emosi meluap-luap dan tak tertahankan membuat Gita berlari pergi meninggalkan cafe yang pernah menjadi tempat terromantis baginya dan Radit.


"Git, tunggu! Maafin aku. Tapi, apa semuanya emang cukup sampai di sini aja?"
"Lo tau kan Dit? Selama setahun kita ngejalanin ini semua itu bukan tanpa usaha dan pengorbanan Dit. Gue usaha buat ngepertahaninnya mati-matian. Tapi, kita udah ngga kayak dulu lagi. Kita udah ga bisa dalam satu jalan lagi. Kemarin, gue udah bener-bener yakin sama kepututsan itu. Dan sekarang, gue makin yakin, kalo keputusan itu emang ga bisa lagi dirubah. Gue sayang sama lo tapi kayaknya cerita tentang kita emang harus ditutup."
Gita pun melangkah pergi. Punggungnya semakin menjauh. Dalam hati, Radit meminta, andai dia punya magnet yang mampu menarik punggung tersebut, sudah ditariknya punggung yang kini semakin menjauh itu tuk kembali lagi dalam pelukannya.



"Tak selamanya ketika kamu masih saling menyayangi dengan seseorang, orang tersebut akan mau kembali lagi pada kamu ketika kamu memintanya. Dia pasti punya alasan mengapa dia tidak ingin kembali. Mungkin dia letih karena kunjung diterpa badai tanpa henti, atau mungkin... dia sudah menemukan cinta yang baru. Jangan paksa orang yang kamu sayangi untuk kembali denganmu, jika dia tak mau. Karena cinta tak pernah memaksa, kawan. Cintailah dia dalam diam. Tapi, jika dia sepertinya tak kan pernah kembali lagi, inilah saatnya kamu tuk mundur, menjauh, dan berhenti berharap. Mungkin Tuhan sudah menyiapkan 'orang lain' untukmu. Tetaplah optimis dan percayalah pada ‘akhir yang indah’ dalam kehidupan ini."

Minggu, 01 Januari 2012

Menutup Buku Tentang Kita


Menutup Buku Tentang Kita



Keputusanmu masih belum dapat aku terima
Kenyataan ini masih belum dapat membuat ku ikhlas
Situasi ini membingungkan kemana aku harus melangkah
Semua jalan gelap, seolah tak ada cahaya yang sudi meneranginya

Aku selalu mencoba tuk mentolerir setiap kesalahan yang kau perbuat
Mencoba mengalah, walau hati sebenarnya ingin merasakan menang
Mempertahankanmu yang egois,
Hanya membuat hatiku terpaksa rela menjadi korban atas sikapmu

Memang kita sudah tidak sejalan lagi
Memang kita selalu mengalami pertengkaran
Mungkin cinta sudah mulai lenyap di antara kita
Semuanya memang sudah tidak seperti dulu lagi

Kau meninggalkan dua jenis kenangan untukku
Kenangan manis dan juga kenangan pahit
Kau juga meninggalkan tawa dan luka
Tapi, kini bayanganmu terus mengulang luka tanpa dapat mengulang tawa

Semakin aku berusaha mengenyahkan bayangmu,
Semakin kuat wujudmu menjelma di pikiranku.
Semakin berkelebat bayanganmu di otakku,
Semakin perih tertebar di hatiku.

Teringat aku, pada apa yang kau lakukan untukku
Kau membuatku tersenyum, di saat hati telah lelah menjerit akan pahitnya hidup
Kau membuatku tertawa, di saat mata sudah kering karena kehabisan airnya
Dan kau merangkulku, di saat aku butuh energi untuk tetap kuat

Mungkin waktu, membuat kita merasa jenuh
Mungkin waktu, membuat kita merasa bosan
Mungkin waktu, membuat kita tak dapat lagi seperti dahulu
Dan mungkin waktu, sudah tak dapat lagi mengizinkan kita bersama

Hari semakin senja, dan hatiku masih tetap sendu karena pilu
Cintaku sama seperti jingga yang disamarkan oleh senja
Hanya dapat disamarkan tapi, tak dapat dihilangkan
Karena esok, ia pasti akan hadir kembali

Perasaan itu masih ada untukmu
Tapi, sering kali aku bimbang entah untuk apa perasaan itu
Entah ada untuk dibalas
Atau hanya sekedar perasaan yang memang wajar aku rasakan sampai tanpa sadar ia hilang

Kini, tembok telah tercipta antara kita
Membuat aku dan kau semakin jauh
Membuat aku dan kau tak bisa lagi menjadi 'kita'
Membuat kau kadang seperti orang asing bagiku

Dadaku berdebar dan bergemuruh
Seperti ada suatu perasaan yang tiba-tiba merasuki
Rindu, R-I-N-D-U
Ya, mungkin aku rindu padamu

Kau harus tau,
Sampai saat ini tak ada yang bisa mengganti posisimu di kesunyianan hati ini
Sampai saat ini, belum ada yang bisa mengenalkan kembali padaku rasa 'cemburu' itu
Emosiku meluap dan nyaris tak dapat dibendung ketika rindu dan kenangan merajai

Akalku memang kadang tak dapat merasionalisasikan semua yang terjadi
Tapi, akhirnya keadaan dan waktu membuatku paham
Bahwa buku tentang kita memang tampaknya harus ditutup
Bahwa hatiku harus dihadirkan cinta yang lain untuk memulai cerita baru

Tertanda,
dariku.

Untukmu,
yang sempat menjadi bagian hidupku.



NB: Ini sebenernya puisi yang gue buat untuk ngegambarin perasaan temen gue yang kebetulan satu kelompok kerja dengan gue, hahaha. Gue masih inget sama mukanya yang lucu karena langsung galau gituu dehhh hahaha.

Selasa, 27 Desember 2011

Kita Tak Dapat Bersama Lagi Walau Kita Saling Menyayangi


Aku pacaran sama kamu karena aku mau ngerasain gimana rasanya hubungan yang terpaut jarak itu. Aku ga pernah ngerasain LDR itu sebelumnya. Tapi, semenjak sama kamu, aku jadi ngerti gimana rasanya. Aku mau sama kamu karena aku seneng sama kamu. Kamu pinter, banyak persamaan di antara kita. Dan akhirnya, aku sayang sama kamu.

Setiap hari, aku makin kenal sama kamu. Aku makin paham sama kebiasaan kamu. Aku juga cukup hafal sama kegiatan kamu, apalagi, sepakbola. Setiap ngeliat atau ingat segala sesuatu yang berhubungan dengan sepakbola, aku ingat kamu, haha.

Aku... Aku bangga sama kamu. Aku bahagia ngemilikin kamu. Aku juga bangga sama hubungan yang udah kita jalani ½ tahun ini, ngga tau kenapa.

Aku selalu nyoba buat ngepertahanin hubungan kita, karena sebenarnya aku benci perpisahan dengan orang yang aku sayang.

Aku selalu nyoba buat ngindarin yang namanya jenuh. Aku juga pernah ngejelasin di email sebelumnya kan?

Setiap aku benar-benar pengen sendiri, kamu ngehubungin aku. Jadi, gimana caranya aku buat ngindar dan jangan sampai ngerasa jenuh? Apa kamu ngga ngerti sama jalan pikiran aku? Atau sebenernya kamu ga suka cara aku ini?

Aku sering nyuekin kamu, aku sering ngejutekin kamu. Tapi, itu bukan tanpa sebab. Kadang, akunya badmood, atau akunya kesel sama salah satu cara kamu ngungkapin perasaan kamu dalam bentuk tulisan. Aku capek selalu dihantui sama rasa bersalah karena udah nyakitin kamu.

Bukannya, pas ulangtahunmu kemarin kamu pengennya aku berubah kan? Tapi, gimana bisa aku ngerubah semuanya secara total? Aku cuma bisa ngurangin itu. Dan selama ini, sikap cuek atau jutek aku cuma reaksi dari apa yang udah kamu tuliskan dan kirim ke aku, dan selebihnya itu karena akunya memang lagi badmood.

Kadang, ada beberapa cara kamu ngungkapin gagasan/apa yang kamu rasain ke aku, yang gak aku suka. Aku ngerasa tersinggung karena kamu terkesan nyudutin dan nyalahin aku. Iya, aku memang sensitif.

Selama ini, kenapa cuma aku yang berusaha buat hal-hal baru? Kenapa cuma aku yang cerita apa yang aku rasain, lakuin, atau rencanain? Kenapa cuma aku yang di sini terbuka apa adanya?


Email itu pun terkirim. Mungkin, aku lebih mampu tuk menjelaskan perasaanku secara rinci lewat tulisan, bukan mengucapkannya secara langsung. Selain itu, aku juga tak mampu menahan tangis jika aku langsung mengutarakan perasaanku padanya.
Handphoneku berdering. Siapa ya? Nomornya tidak ku kenali, dan di layar handphoneku pun tak ada nama yang tertera di sana.
"Ya? Halo? Ini siapa ya?" Sapaku.
"Ini aku." Jawabnya. Ah! Suaranya. Aksennya. Aku hafal. Aku tau siapa orang ini.
"Iya? Ada apa? Kamu pakai nomor baru? Nomor yang lama kenapa emangnya?" Tanyaku basa basi.
"Ku pikir, jika aku menelfonmu dengan nomor yang biasa ku pakai, kamu tak kan mau mengangkat telfonku, karena kamu tau itu aku." Tiba-tiba aku ingin menangis saja ketika mendengar penjelasannya.
"Bukankah sekarang aku telah mengangkat telfon darimu?" Tak ada suara beberapa saat. Cepat-cepat aku bertanya lagi. "Apa ada yang harus kita bicarakan (lagi)?"
"Kamu kemana saja? Kenapa tidak ada kabar? Mengapa kamu tidak membalas pesanku?" Dia balik menyerangku dengan berbagai macam pertanyaan yang semakin membuatku tak tahan lagi ingin menangis. Aku dengar suara cemasnya dari ujung sana.
"Apa harus aku jawab pertanyaan-pertanyaan itu?" Aku mencoba untuk mengendalikan emosiku dan berharap getir suaraku menahan perih itu tidak terdengar olehnya.
"Baiklah. Besok aku akan ke kotamu. Kita akan bertemu di cafe tempat kita biasa bertemu. Aku akan ada di sana jam 7 malam. Jangan sampai lupa."
Klik! Telfon pun ditutup, padahal... aku belum menjawab apa-apa, apalagi memberi persetujuan.

***

Sesuai janji yang telah dibuatnya tanpa persetujuanku (sebenarnya), aku pun bersiap-siap. Ku kenakan pakaian yang persis seperti ketika dia mengutarakan perasaannya padaku. Ketika aku dan dia menjadi 'kita' untuk pertama kalinya, di hari itu.
"Apa aku terlambat?" Seseorang bertanya mengejutkanku dari lamunanku.
"Terlambat 15 menit." Jawabku setelah melihat seseorang yang telah mengejutkan tersebut lalu mengalihkan padanganaku ke jam di handphoneku.
"Mengapa kamu melamun? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanyanya.
"Menurutmu?"
"Ya sudahlah. Kamu ingin pesan apa?" Tanyanya lagi.
"Pesan saja makanan yang dulu kamu pesankan untukku ketika kamu menembakku."
"Hah? Apa? Oke. Baiklah.” Dia memanggil waiter cafe, lalu, memesan makanan. Setelah itu, dia menatapku dalam-dalam.
"Ada apa?" Tanyaku heran.
"Apa.... Apa pakaian yang kamu kenakan sekarang adalah pakaian yang..."
"Benar. Aku hanya ingin membangkitkan kenangan hari itu. Aku rindu hari itu." Potongku dan langsung menjawab pertanyaan yang mungkin sedang menguasai pikirannya. "Kamu hafal tentang pakaian yang ku kenakan dan makanan yang dulu ku pesan? Bagaimana kamu bisa hafal?" Tanyaku yang sebenarnya senang karena dia mengingatnya.
"Karena itu hari yang spesial." Jawabnya singkat. Aku pun mengangguk setuju karena hari itu juga spesial bagiku.
Setelah makanan habis, aku pun langsung memulai tuk membuka obrolan lagi. "Jadi, apa yang harus kita bicarakan di sini?"
Suasana hening sesaat. Sepertinya, pertanyaanku benar-benar menjurus. Ku lihat gelagat darinya yang tampak bingung harus berkata apa. Ia pun akhirnya membuka mulutnya.
"Sepertinya... semakin hari aku benar-benar tidak bisa menjadi seperti yang kamu mau. Kita sering kali tidak sejalan, tidak seperti dulu, yang selalu mampu sejalan dan saling mengerti. Jadi, sepertinya kita hanya bisa mempertahankannya selama 6 bulan saja."
"Saja? Kamu bilang apa? Saja?" Tanyaku dengan nada suara yang menyindir. "Aku pikir, 6 bulan yang sudah kita lalui ini benar-benar hebat. Kita mampu melewatinya bersama. Aku banyak belajar darimu. Tanpamu, aku tak kan mengerti apa rasanya hubungan yang terpaut jarak itu." Lanjutku.
"Lalu, aku harus berbicara apa pada penulis yang begitu pandai memainkan kata-kata ini?" Dia balik bak menyindirku.
"Aku tidak memainkan kumpulan huruf tersebut. Aku hanya... Aku hanya mengucapkan apa yang ku rasakan. Itu saja. Jadi, jangan karena aku suka menulis, kamu jadi mengira setiap yang ku tulis untukmu hanyalah sekedar rancangan dan imajinasiku."
"Apa itu berlaku untuk kalimat 'aku sayang padamu' yang kamu tuliskan di pesan singkat untukku?"
"Tentu! Aku menyayangimu, benar-benar menyayangimu. Tapi, memang benar katamu. Saat ini, kita kerap kali tidak sejalan. Daripada kita terus-terusan saling menyakiti tanpa sadar atau pun tidak, lebih baik sampai di sini saja."
Dia terdiam mendengar penjelasanku. Aku tak mau ada yang mengganjal lagi di hatiku, makanya, ku lanjutkan lagi apa yang sekarang membuat hatiku meledak-ledak. "Aku tau umurku berapa. Jadi, aku berpikir realistis sajalah. Setiap pertemuan pasti kan selalu dihadiahkan perpisahan. Tapi, jika Tuhan berkehendak lain... Who knows."
"Ah kamu, kamu selalu lebih bijak dariku. Itu yang ku suka darimu."
Sama seperti 6 bulan lalu yang Ia lakukan padaku, Ia langsung memelukku. Tapi, kali ini berbeda. Jika dulu penuh senyum bahagia dan tawa, serta perasaan canggung. Sekarang semuanya berubah menjadi suasana penuh haru dan pilu.
"Maaf jika selama ini aku menyusahkanmu... menuntutmu banyak hal... membuatmu cemburu... Maaf jika aku menyakitimu... Aku tak bermaksud untuk semua itu. Terimakasih untuk semua pelajaran yang telah kamu berikan untukku. Percayalah, aku menyayangimu. Namun, mungkin perpisahan ini adalah keputusan yang terbaik. Tuhan akan mempertemukan kita lagi jika nama kita berdua telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan yang bahagia selama-lamanya." Tangisku pecah. Ku tuangkan segala perasaanku dalam pelukannya. Ia pun semakin memelukku dengan erat. Hangat. Penuh getir.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang. Aku kan memelukmu sampai kamu merasa lebih kuat."
Sebuah pelukan yang tulus darinya memang memberikan energi yang tak terhingga untukku.
"Apa… aku sudah ja..ja..hat pada..mu?" Suaraku tercekat karena tangis yang semakin menjadi-jadi itu.
"Percayalah, kamu tidak jahat. Jika kamu mampu menemukan orang yang lebih dariku, temukanlah orang itu. Aku hanya ingin kamu bahagia."
Cafe, tempat duduk, makanan yang dipesan, dan pakaian yang ku kenakan, semuanya sama seperti pertama kali aku diperbolehkan memanggilnya dengan panggilan 'sayang'. Bedanya, jika pertemuan 6 bulan yang lalu itu untuk mengawali sesuatu yang baru, pertemuan kali ini adalah pertemuan untuk mengakhiri sesuatu yang pernah diawali tersebut.
Ada perasaan lega di hatiku ketika sesuatu yang sudah lama aku simpan akhirnya ku sampaikan pada orang yang membuat perasaan yang mengganjal di hatiku itu tercipta.
Mungkin, tidak akan ada yang berubah dari hari-hariku. Aku tetap akan menjalani aktivitas seperti biasa. Tak kan ada rasa cemburu yang berkelabat secara langsung karena aku dan dia terpaut oleh jarak. Aku tak mungkin bisa tau semua yang dia lakukan. Cemburuku mungkin hanya akan muncul, ketika aku melihat dia dekat dengan seseorang di jejaring sosialnya. Yang berubah hanyalah tak ada lagi pesan singkat 'Selamat Pagi' 'Selamat Tidur' 'Aku merindukanmu' 'Sedang apa?' 'Jangan lupa makan' darinya yang ku terima di kotak masuk handphoneku.

Tuhan, semoga perpisahan ini tidak menyakiti hati siapa pun di antara kami. Amin.